Ethiopian Opal

Kilau pasir silika di hamparan padang gersang di salah satu wilayah Afrika itu benar-benar menunjukkan betapa kering dan panasnya di wilayah itu.

Jutaan tahun yang lalu, pada saat permukaan kulit bumi masih relatif panas dan sinar mentari di sana sedang sangat teriknya.
Pasir-pasir silika itu kepanasan, mencapai titik didihnya dan mulai lumer memasuki celah-celah pasir lainnya. Manusia modern menggunakan fenomena yang sama untuk membuat kaca, namun  pada zaman itu karena permukaan bumi juga masih agak labil, mulailah terkumpul lumeran pasir silika ini di celah-celah pasir dan bebatuan yang ada.

Gas-gas yang keluar dari perut bumi pun menyatu dan memberi corak-corak yang indah pada lumeran pasir silika ini.

Ethiopian Opal

Malampun tiba..
udara berubah menjadi dingin..
ada rembesan air yang jatuh ke permukaan bumi dan menyusup ke dalam lumeran pasir silika tersebut, terserap dan masuk sebagian ke dalam lumeran itu, mendinginkan lumeran itu menjadi semakin padat.

 Dan pasir-pasir kotor di sekitarnyapun melekat menutupinya.
 Diam dan mengeras di dalam sana selama jutaan tahun dan tidak nampak sedikitpun dari luar keindahan pasir silika yang sudah bercorak indah itu.
Yang kini hanyalah terlihat seperti sebongkah batu. Bumipun bergolak memuntahkan isi perutnya keluar dan batu itupun ikut terlempar, melumer di bagian permukaannya dan mengikat semakin banyak pasir di tempatnya terjatuh dan batu itupun makin menebal kulitnya tergeletak di tengah padang pasir yang gersang,

tak jarang pula ada binatang dan manusia purba yang mengencingi maupun membuang kotorannya di atas batu ini.

Foto Ethiopian Opal

Ada sisa biji-bijian dalam kotoran itu yang tumbuh menjadi tanaman menjadi pohon dan batu kecil inipun ikut terdesak ke dalam tanah oleh pertumbuhan akar akar pohon ini.
Zamanpun berlalu..
Kekeringan yang berkepanjangan akhirnya mematikan pohon ini dan menyisahkan si batu kecil di dalam tanah.
 Lumernya es di kutub utara serta patahnya lempengan lempengan membuat batu kecil kita ini berpindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain dan akhirnya berhenti di sebuah kedalaman tertentu di negeri yang kita kenal dengan nama Ethiopia.

Di kawasan pegunungan Yita di daerah Mezezo  di kawasan yang mungkin masih melekat dalam ingatan kita tentang bencana kelaparan yang amat dahsyat di era '80 an di pertengahan abad ke 20.

Sekelompok peneliti mineral menemukan batu kecil ini dan mulai mencoba mempelajari apa kandungan mineralnya dan mereka mendapatkan sebongkah batu mulia yang indah yang kemudian diberi nama Ethiopian Opal.

Batu Mulia Ethiopian Opal

 Jenis batu mulia yang berharga mahal dan digemari di seluruh dunia.
Tak banyak orang ingat bahwa batu indah ini terbentuk dari pasir silika yang rapuh seperti kaca dan memiliki kandungan air di dalamnya dan berisi gas yang terbentuk oleh panas permukaan bumi saat itu.

Dan makin banyaklah orang salah dalam  merawatnya dan makin sedikit pula sisa Ethiopian Opal yang masih nampak cantik dan utuh di pasaran..

makin langka, makin berharga dan pecinta batu mulia makin mengenal cara merawatnya.
Yaitu menghindarkannya dari panas yang berlebihan dan menghindarkannya juga dari rendaman air.

Merawatnya cuma dengan membersihkannya dengan kain yang halus yang justru membuat permukaannya makin mengkilap dan indah memamerkan warna warni serta bias pantulan cahaya yang menyinarinya.

Aku menuliskan cerita in untuk seorang sahabat yang terlahir sebagai makhluk mungil yang masih lemah dengan status yang tidak jelas secara hukum tumbuh melewati tekanan, penderitaan, dan cobaan yang berlapis-lapis saat teman-teman sebayanya justru masih sibuk bermain-main.

Yang kini jadi seorang wanita yang tegar dalam menghadapi cobaan di luar, namun sangat rapuh di dalam bila kurang tepat mengendalikan isi benaknya.

Gambar Ethiopian Opal

 Mirip banget dengan Ethiopian Opal yang mudah mengalami "crazing" , retakan-retakan di dalam yang justru akan menjadi daya tarik dan corak tersendiri bila diperlakukan dan distabilkan.

Saat ini, dia seperti saat batuan itu ditemukan para peneliti, transformasi dari sebuah batu yang terbuang menjadi batu mulia yang indah, yang merelakan hal-hal yang menyakitinya selama ini dibuang dan dilepaskan darinya.

Memberikan kesempatan untuk dirinya dipoles menjadi batu mulia yang berkilau-kilau penuh corak warna dan tekstur karakter yang tertuang lewat karya-karyanya yang akan merambah dan menjadi perbincangan di berbagai belahan dunia,

Batu Ethiopian Opal

Aku.. sudah tak sabar menunggu saat itu..
Ethiopian Opal
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

2 Responses to "Ethiopian Opal"

  1. Baru tahu aku. Pasti bagus dijadikan batu akik. Hehehhe
    Salam Ngeblur,

    ReplyDelete