Pengobatan Alternatif Solusi Selain Medis

Hari minggu kemarin saya menemani saudara saya ke sebuah tempat di Purbalingga, tepatnya Mrebet untuk berobat di sebuah tempat Pengobatan Alternatif, dari pengalaman ini setidaknya ada beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil bagi saya pribadi.

Berangkat dari Banyumas sekitar jam 4 pagi sampai di lokasi sekitaran jam 5.30 pagi sudah ramai beberapa orang yang sedang menunggu pembukaan antrian pendaftaran.

Sekitar jam 6 pagi barulah pendaftaran dibuka dan alhamdulillah kami dapat nomer antrian pertama.
Namun nomer pertama dalam antrian ternyata bukanlah jaminan akan masuk dipanggil pertama kalinya, pada lokasi pengobatan alternatif ini tidak menerapkan sistem penjadwalan yang mana dibukanya adalah semau sang terapis.

Ya dari jam 6 pagi sampai dengan jam 11.30 acara pengobatan baru dibuka, adalah hal membosankan untuk menunggu selama itu.

Dan pula yang mengganjal dihati adalah para pencatat daftar antrian yang tidak memperbolehkan para calon pasien memasuki area dalam gerbang dan menyuruh untuk masuk sesuai antrian, namun mereka malah mengingkari ucapan mereka sendiri yang mana ada beberapa calon pasien yang datang sebelum kami justru diperbolehkan masuk seenaknya.

Ya mungkin bisa dikatakan mereka adalah teman/saudara/kenalan dekat dari sang terapis atau pasien yang belum sempat ditangani dihari kemarin.

Tapi kami benar-benar tahu ada beberapa yang baru datang dengan mudahnya bisa masuk tanpa melalui pendaftaran, ini kami ketahui karena mereka sebelumnya sempat ngobrol sebentar dengan kami.

Akhirnya fix sekitar jam 12.00 barulah acara pengobatan benar-benar dimulai, mulailah banyak para pasien yang bergerombol masukl kedalam lokasi

pengobatan alternatif

Dan anda tahu, nomer pertama bukanlah jaminan, ternyata malah dilayani antrian ke sembilan dan selesai terapi jam 13.00.

Adapun metode terapi disini dikatakan oleh saudara saya adalah dengan menggunakan benda tajam seperti Silet dan juga Palu dan Obeng !!

Anda bertanya?? untuk apa palu dan obeng??

Katanya (karena saya gak ikut masuk) didalam lokasi, sang pasien ditanyai apa keluhan penyakit yang dideritanya, kemudian sang terapis mulai mengambil benda tajam silet dan mulai sedikit merobek jaringan kulit dekat lokasi penyakit lalu disedotnya secara manual oleh sang terapis, mungkin darah pusat sumber penyakitnya.

 Untuk palu dan obeng saya gak akan cerita lah ya..

Sambil menunggu saudara diterapi, diluaran area kami sempat mendengar beberapa pasien yang ngobrol-ngobrol seperti dari mana mereka berasal, apa keluhan penyakitnya, sudah berapa kali datang kesini apa baru pertama atau sudah kesekian kalinya.

Setidaknya kami juga sempat bertegur sapa dengan beberapa diantara mereka, ada yang berasal dari Pekalongan, Kebumen, Klaten, Banjarnegara, Pangandaran, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dan juga yang membuat saya pribadi sedikit trenyuh, melihat beberapa pasien yang tergolek lemah datang dengan dibantu diangkat oleh keluarganya.

Keluhan penyakit seperti Prostat, Hernia, Kanker, Pengeroposan Tulang, Sakit kepala akut dan banyak lagi kami jumpai disini.



Kata Guru Terapi Reiki saya dulu pernah bilang.
"dalam sebuah terapi pengobatan Manusia itu ibarat mobil yang akan turun mesin, jadi diharuskan mematikan dahulu mesinnya sebelum diperbaiki, dalam kiasannya manusia yang sedang mengalami kerusakan badan (sakit)  haruslah pasrah dan meninggalkan ego dirinya dalam sesi terapi seperti pikiran ataupun pertanyaan,
"tapi menurut penelitian bla bla bla ..." katanya ..
"dan saya juga mendapat nasihat dari si *****, menurutnya bla bla bla bla" lanjutnya ..
"terus, kapan kamu menurut sama aku?"
  ..
#‎maaf‬ .. kamu mau berobat apa berdebat ya?
Kan bahaya kalau memperbaiki  mesin yang lagi tancap gas"

Dan yang penting selalu berharap dan bersyukur terhadapNYA, jaga kesehatanmu itu sangat penting.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

0 Response to "Pengobatan Alternatif Solusi Selain Medis"

Post a Comment